Hoax? Tidak!!!

 Smadapedia.com | Seiring berkembangnya teknologi yang begitu pesat di era zaman sekarang, tak meragukan lagi jika banyak pihak yang mudah memperoleh informasi maupun mengunggah informasi di media sosial. Namun banyak pihak yang lupa dan tak memperhatikan keaslian dari berita yang akan mereka sebar atau mereka percayai. Sehingga hal itu terkadang menimbulkan berbagai masalah yang akan timbul di lingkungan masyarakat seperti perbedaan pendapat, kesenjangan sosial, dll.
Sebagai generasi muda yang memanfaatkan IPTEK, kita harus pintar dalam menyikapi arus teknologi yang memiliki dua mata pisau dari segi positif dan negatif. Oleh karena itu, pada hari Selasa, 15 Agustus 2018 SMA N 2 KUDUS mengadakan forum diskusi Smada atau biasa disebut FORDISMA yang mengangkat tema tentang hoax. Hal ini bertujuan membekali anak didik khususnya siaswa-siswi SMA N 2 KUDUS supaya lebih bijak dalam menghadai pesatnya arus teknologi.
Berita bohong atau hoax tak asing lagi di telinga kita, bukan? Namun apa sebenarnya hoax itu? Hoax adalah suatu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca / pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.
Lalu, bagaimana hoax bekerja? Menurut pandangan psikologis, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya pada hoax. Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Contohnya, seseorang yang menganggap bahwa bumi datar memperoleh artikel yang membahas tentang berbagai teori konspirasi mengenai foto satelit maka secara naluri orang tersebut akan mudah percaya karena mendukung teori bumi datar yang diiyakininya. Secara alami perasaan positif akan timbul dalam diri seseorang jika opini atau keyakinannya mendapat afirmasi sehingga cenderung tidak akan mempedulikan apakah informasi yang diterimanya benar dan bahkan mudah saja bagi mereka untuk menyebarkan kembali informasi tersebut.
Terkadang, kita sering bertanya-tanya, apa keuntungan yang didapatkan si penyebar berita hoax degan menyebarkan berita hoax tersebut? Banyak sekali alasan yang mendorong seseorang untuk menyebarkan berita hoax diantaranya : kesenangan pribadi agar viral / terkenal. Menggunakan ketenaran yang didapatkannya untuk mengalahkan musuh, dan ada juga memang pekerjaan mereka yang entah terkait dengan unsur politik, maupun unsur lainnya.
Lalu, bagaimana cara mengatasi ledakan informasi di era globalisasi seperti saat ini? Kita bisa mengakalinya dengan strategi CAKAP ( cerdas, keatif, dan produktif)
1. Cerdas
Apa yang dimaksud cerdas di sini? Sebagai seseorang yang hidup di zaman milenial, kita harus cerdas dalam memilih dan memilah suatu informasi dari berita yang baru saja kita peroleh. Cara cerdas yang bisa kita lakukan antara lain, cermati judul berita yang sensasional dan provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta yang disajikan dalam sebuah artikel berita, dll.
2. Kreatif
Apa maksud kreatif di sini? Kita bisa melakukan hal-hal yang kreatif untuk mencegah penyebaran berita hoax. Diantaranya, mengikuti grup-grup anti hoax, memperluas wawasan dan pengetahuan kita, tidak menelan mudahnya setiap berita yang muncul di notifikasi sosial media kita.
3. Produktif
Makna produktif di sini adalah memanfaatkan informasi dengan baik sesuai norma dan etika bangsa Indonesia ( sosial, agama) menyikapi suatu informasi dengan baik .
Sikap pemerintahan dalam fenomena berita hoax dipaparkan dalam beberapa pasal yang siap ditimpakan kepada penyebar hoax tersebut antara lain ,KUHP , Undang-Undang no 11 tahun 2008 tentang informsi dan transaksi elektronik ( ITE), Undang-Undang no 40 tahum 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Tidak hanya itu, penyebar berita hoax juga dapat dikenakan pasal terkait ujaran kebencian dan yang tel;ah diatur dalam KUHP dan UU lain di luar KUHP.
Dalam melawan hoax dan mencegah meluasnya dampak negatif hoax pemerintah pada dasarnya telah memiliki payung hukum yang memadai diantaranya UU No.11 tahun 2008 tantang Informasi dan Transaksi Elektrolika ( UU ITE) pasal 27,28, dan 29. Adapun ancaman pidana yang diberikan ialah ancaman pidana maksimal 4-6 tahun dan/atau denda maksimal 750-1 M(dalam pasal 45). .©Jurnalistik SMAN 2 KUDUS

Share this

Related Posts

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »