Outdoor Learning ke TPA Adipura Kudus

Smadapedia.com | Kamis (11/04), Bank Sampah SMAN 2 Kudus mengadakan Outdoor Learning ke 'Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Rejo Kudus'. Kegiatan ini diadakan bertujuan untuk mengunjungi TPA yang sempat mendapat Adipura Kencana pada tahun 2017 lalu dan mengetahui lebih dalam lagi bagaimana perjalanan sampah dari masyarakat hingga berakhir di TPA ini, tentang proses pengolahan sampah di TPA, hingga pemanfaatan gas metan yang dihasilkan dari sampah tersebut.

Kedatangan kami disambut baik oleh pengelola TPA Tanjung Rejo Kudus. Pak Suwarno, pengelola TPA Tanjung Rejo Kudus yang hampir pensiun ini mengaku kewalahan mengatasi sampah di Kudus yang setiap hari menyetor sampah 115-120 ton, sedangkan luas TPA yang hanya 5,6 ha ini sudah Overload. "Ya, ini nanti akan diperluas lagi oleh pemerintah, dan tentu dijauhkan dari pemukiman" Ujarnya ketika diwawancarai di Kantor TPA Tanjung Rejo Kudus.

TPA ini dibagi menjadi dua zona, yaitu zona pasif dan zona aktif. Zona pasif adalah daerah yang sudah tidak lagi ditimbun sampah dan sebagian sudah dialihfungsikan menjadi Taman, namun sebagian lagi zona pasif akan diaktifkan kembali. Sedangkan untuk zona aktif merupakan zona yang masih digunakan untuk pengolahan sampah mulai dari penimbangan, pemilahan, hingga penimbunan. Kendaraan yang memuat sampah sebelumnya ditimbang terlebih dahulu baru boleh membuang sampah dan akan ditimbang lagi saat muatan kosong, hal ini bertujuan untuk mengetahui berat bersih sampah yang disetor. Untuk proses pemilahan sendiri diserahkan kepada para pemulung yang ingin mengais rezeki di balik timbunan sampah yang disetori TPS (Tempat Pembuangan Sampah) maupun sampah pabrik atau sampah rumah tangga lainnya. "Ada pemulung yang memilah dan ada gedung baru khusus untuk memilah" ujar pak Suwarno. Setalah dipilah oleh para pemulung kemudian sampah yang tersisa tadi ditimbun tanah untuk mengurangi bau yang menyengat, namun sebelumnya sudah dipasangi paralon yang akan menangkap gas metan dari gundukan sampah tersebut dan disambung hingga ke ruangan khusus 'pemanfaatan gas metan', "ruangan tersebut berada di dekat penimbangan. Kemarin sempat rusak" ucapnya menambahkan sambil menunjuk tempatnya dari kejauhan. Air Lindi yang merupakan air dari buangan sampah tersebut ditampung dalam bak, tetapi masih belum diolah karena terlalu mahal biaya pengolahannya (Rp 750.000/ kubik) padahal di TPA ada (5-6)m tinggi bak. Ketika ditanya cara lain pengolahan sampah selain ditimbun, beliau sedikit ragu menjelakannya, pasalnya sedikit kemungkinannya. "Mau dibuat campuran aspal, tapi kita harus ada partner. Ada lagi kemarin ditawari untuk tenaga pembangkit listrik, tetapi harus 300 ton sampah per harinya, sedang kita hanya 115-120 ton sampah per hari."


TPA yang sudah berdiri sejak 1993 - sekarang ini sudah menghidupi banyak pemulung, "ada yang sudah menjadi bos pengepul" ujar bu Zumrotun, salah satu pemulung yang sempat kami wawancara. Bu Zumrotun, ibu 7 orang anak ini mengaku sudah 16 tahun menjadi pemulung dibantu suaminya yang juga bekerja sampingan sebagai petani. "20.000 per hari mbak, itu sudah bersih. Dari jam 8-3 sore." tambahnya menyebutkan hasil yang diperoleh selama sehari bekerja mengais sampah. Pemulung-pemulung ini tidak begitu khawatir dengan kesehatan mereka karena dari pemerintah sendiri menyediakan pemeriksaan khusus untuk mereka yang didatangkan dari UPT Puskesmas Tanjung Rejo sebulan sekali. Perubahan TPA dari dulu hingga sekarang terlihat dari lebih sedikitnya gundukan yang terlihat daripada dulu, karena dulu limbah buangan pabrik juga dibuang kesini. "Alhamdulillah mbak, sudah dimudahkan karena sekarang jenis sampah yang disetor boleh ada plastik, dulu cuma atom saja." prakata terakhirnya sambil tersenyum sebelum kami pamit pulang.
©JurnalistikSMADA







Share this

Related Posts

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »