thumbnail

Satu Hari Berkesan dengan Kartini

Smadapedia.com | Jumat (21/04) diadakan acara untuk memperingati hari Kartini di SMA 2 Kudus. Dengan petugas upacara ibu-ibu guru di SMA 2 Kudus, upacara berlangsung lancar. Petugas upacara dari ibu guru ini dimaksudkan untuk menekankan bahwa emansipasi wanita yang merupakan perjuangan dari R.A. Kartini itu penting.
Lalu setelah upacara, acara dilanjutkan dengan pemutaran film Surat Cinta untuk Kartini  yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama ialah sesi dimana pemuturan film diperuntukkan untuk siswa kelas X yang berlangsung setelah upacara bendera hingga pukul 09.30. Sedangkan sesi kedua adalah sesi pemutaran film untuk kelas XI. Ada yang unik dalam pemutaran film ini. Yakni film hanya diputar setengah dan setengahnya lagi digunakan untuk tugas dengan siswa dapat menulis sebuah plot cerita sesuai dengan keinginan hati mereka.
“Pemutaran film ini dimaksudkan agar generasi muda dapat lebih meneladani perjuangan dan sifat sikap dari R.A. Kartini. Untuk antusiasme dari siswa dapat dikatakan cukup, namun sangat disayangkan karena banyak siswa yang tidak berangkat untuk menghadiri acara ini.” ujar Alan Mula Sidky selaku wakil ketua panitia.
Acara dilanjutkan usai waktu Jumatan, yaitu acara memasak, make up, dan fashion show Kartini Kartono. Indoor yang sudah dihias sedemikian rupa tentu saja menarik perhatian siswa SMA 2 Kudus. Dengan waktu make up yang 20 menit penampilan Kartini Kartono  diwajibkan sudah selesai. Juga dengan waktu 1 jam, para chef dadakan yang merupakan 3 orang siswa laki laki dari setiap kelas diwajibkan sudah selesai memasak dengan bahan dasar nasi/ mie.
Setelah Kartini Kartono selesai berjalan di karpet merah, mereka diwajibkan berfoto bersama di photo booth dengan gaya yang anggun dan berwibawa. Namun, sebelum berfoto mereka diwajibkan mengenalkan diri dan menyampaikan pendapat tentang R.A. Kartini dengan berbahasa jawa krama.
Ada yang unik saat penjurian dilakukan. Untuk penjurian masak, penilaian dilakukan dua gelombang. Untuk gelombang pertama bejalan cukup lancar dan baik. Namun, untuk gelombang kedua ada salah satu kelas yang tidak sabar untuk memakan hasil masakannya yang sebelumnya sudah dinilai pada gelombang pertama. Alhasil juri pada gelombang kedua tidak mendapatkan makanan.
Hari yang sangat menggembirakan ini diakhiri pada pukul 16.00. Namun saat sudah dibubarkan pun masih terdapat beberapa siswa di indoor untuk berfoto ria. ©JurnalistikSMADA
   




thumbnail

Outdoor Learning ke TPA Adipura Kudus

Smadapedia.com | Kamis (11/04), Bank Sampah SMAN 2 Kudus mengadakan Outdoor Learning ke 'Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Rejo Kudus'. Kegiatan ini diadakan bertujuan untuk mengunjungi TPA yang sempat mendapat Adipura Kencana pada tahun 2017 lalu dan mengetahui lebih dalam lagi bagaimana perjalanan sampah dari masyarakat hingga berakhir di TPA ini, tentang proses pengolahan sampah di TPA, hingga pemanfaatan gas metan yang dihasilkan dari sampah tersebut.

Kedatangan kami disambut baik oleh pengelola TPA Tanjung Rejo Kudus. Pak Suwarno, pengelola TPA Tanjung Rejo Kudus yang hampir pensiun ini mengaku kewalahan mengatasi sampah di Kudus yang setiap hari menyetor sampah 115-120 ton, sedangkan luas TPA yang hanya 5,6 ha ini sudah Overload. "Ya, ini nanti akan diperluas lagi oleh pemerintah, dan tentu dijauhkan dari pemukiman" Ujarnya ketika diwawancarai di Kantor TPA Tanjung Rejo Kudus.

TPA ini dibagi menjadi dua zona, yaitu zona pasif dan zona aktif. Zona pasif adalah daerah yang sudah tidak lagi ditimbun sampah dan sebagian sudah dialihfungsikan menjadi Taman, namun sebagian lagi zona pasif akan diaktifkan kembali. Sedangkan untuk zona aktif merupakan zona yang masih digunakan untuk pengolahan sampah mulai dari penimbangan, pemilahan, hingga penimbunan. Kendaraan yang memuat sampah sebelumnya ditimbang terlebih dahulu baru boleh membuang sampah dan akan ditimbang lagi saat muatan kosong, hal ini bertujuan untuk mengetahui berat bersih sampah yang disetor. Untuk proses pemilahan sendiri diserahkan kepada para pemulung yang ingin mengais rezeki di balik timbunan sampah yang disetori TPS (Tempat Pembuangan Sampah) maupun sampah pabrik atau sampah rumah tangga lainnya. "Ada pemulung yang memilah dan ada gedung baru khusus untuk memilah" ujar pak Suwarno. Setalah dipilah oleh para pemulung kemudian sampah yang tersisa tadi ditimbun tanah untuk mengurangi bau yang menyengat, namun sebelumnya sudah dipasangi paralon yang akan menangkap gas metan dari gundukan sampah tersebut dan disambung hingga ke ruangan khusus 'pemanfaatan gas metan', "ruangan tersebut berada di dekat penimbangan. Kemarin sempat rusak" ucapnya menambahkan sambil menunjuk tempatnya dari kejauhan. Air Lindi yang merupakan air dari buangan sampah tersebut ditampung dalam bak, tetapi masih belum diolah karena terlalu mahal biaya pengolahannya (Rp 750.000/ kubik) padahal di TPA ada (5-6)m tinggi bak. Ketika ditanya cara lain pengolahan sampah selain ditimbun, beliau sedikit ragu menjelakannya, pasalnya sedikit kemungkinannya. "Mau dibuat campuran aspal, tapi kita harus ada partner. Ada lagi kemarin ditawari untuk tenaga pembangkit listrik, tetapi harus 300 ton sampah per harinya, sedang kita hanya 115-120 ton sampah per hari."


TPA yang sudah berdiri sejak 1993 - sekarang ini sudah menghidupi banyak pemulung, "ada yang sudah menjadi bos pengepul" ujar bu Zumrotun, salah satu pemulung yang sempat kami wawancara. Bu Zumrotun, ibu 7 orang anak ini mengaku sudah 16 tahun menjadi pemulung dibantu suaminya yang juga bekerja sampingan sebagai petani. "20.000 per hari mbak, itu sudah bersih. Dari jam 8-3 sore." tambahnya menyebutkan hasil yang diperoleh selama sehari bekerja mengais sampah. Pemulung-pemulung ini tidak begitu khawatir dengan kesehatan mereka karena dari pemerintah sendiri menyediakan pemeriksaan khusus untuk mereka yang didatangkan dari UPT Puskesmas Tanjung Rejo sebulan sekali. Perubahan TPA dari dulu hingga sekarang terlihat dari lebih sedikitnya gundukan yang terlihat daripada dulu, karena dulu limbah buangan pabrik juga dibuang kesini. "Alhamdulillah mbak, sudah dimudahkan karena sekarang jenis sampah yang disetor boleh ada plastik, dulu cuma atom saja." prakata terakhirnya sambil tersenyum sebelum kami pamit pulang.
©JurnalistikSMADA







thumbnail

Study Tour Kelas 10 ke Sangiran - Candi Prambanan


Smadapedia.com | Gak mau kalah sama kelas 11 yang pergi ke Bali, Kelas 10 pun pergi ke Sangiran
Eiittss.. Tapi untuk Study Tour jadinya, Bu Ari Sapto yang merupakan salah satu guru mapel Sejarah di Smada ini, memberikan sejumlah tugas laporan kunjungan saat pergi kesana,bukan hanya untuk refreshing saja,tapi juga menambah wawasan kita khususnya di mapel sejarah.

Selain ke Sangiran, kita juga ke Candi Prambanan, disana kita melihat peninggalan berupa bangunan bercorak Hindu. Bagi sebagian siswa mengaku sudah pernah, tapi banyak juga yang mengaku belum pernah kesana, apalagi ini bareng sama teman yang boleh dikatakan baru, tentunya lebih menambah keakraban sesamanya.
Tak lupa pula akhir dari Study Tour ini berkunjung ke Malioboro untuk melepas penat dari kegiatan seharian itu. Tapi selepas itu kegiatan itu mereka diberi kesempatan untuk dilibur sejenak,dikarenakan Kelas 12 melaksanakan Ujian Nasional
Seru kan?? Nantikan event-event selanjutnya di Smada Tercinta kita... Sampai jumpa